Sumenep, Okaranews.id – Upaya mendorong literasi keuangan syariah tak cukup hanya dengan teori. BPRS Bhakti Sumekar memilih membumikan konsep tersebut lewat talk show di Pendopo Sumenep Jawa Timur , Selasa (14/04/2026), dengan menghadirkan narasumber dari LPS dan OJK.
Direktur BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, menegaskan bahwa ekonomi syariah sejatinya bukan barang baru bagi masyarakat Madura. Ia menyebut, praktik-praktik berbasis bagi hasil telah lama hidup dalam tradisi lokal, bahkan sebelum istilah “perbankan syariah” dikenal luas.
Konsep mudarabah, misalnya, menurutnya sudah tercermin dalam sistem “paron” di sektor pertanian dan “raksah” dalam pola kerja sama peternakan—dua praktik yang menjadi bukti bahwa nilai keadilan dan pembagian risiko telah mengakar kuat di tengah masyarakat.
“Artinya, masyarakat Madura sejatinya sudah menjalankan prinsip ekonomi syariah sejak lama. Tinggal bagaimana kita mengemasnya dalam sistem yang lebih modern dan terstruktur,” tegasnya.
Di sisi lain, Wakil Bupati Sumenep KH. Imam Hasyim, SH., MH., menyoroti pentingnya peran BPRS Bhakti Sumekar dalam memperluas akses keuangan syariah di daerah. Ia menilai, kehadiran lembaga keuangan berbasis syariah bukan hanya soal layanan, tetapi juga instrumen strategis untuk memperkuat ekonomi masyarakat.
“BPRS Bhakti Sumekar harus terus berkembang dan menjangkau lebih luas wilayah Madura. Ini penting untuk mendorong inklusi keuangan yang adil dan sesuai nilai-nilai lokal,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi langkah ekspansi yang telah dilakukan, termasuk pembukaan cabang di Pamekasan, sebagai sinyal keseriusan dalam memperluas layanan.
Talk show ini tidak sekadar menjadi forum edukasi, tetapi juga momentum menegaskan bahwa modernisasi keuangan syariah tidak bertentangan dengan kearifan lokal—justru berangkat dari sana. Dengan pemahaman yang lebih kuat, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pelaku aktif dalam sistem ekonomi syariah yang berkeadilan.
*****










