Opini  

Madura Punya Sumenep, Tapi Sumenep Mulai Lupa Dirinya

Oleh : Affandi Ubala

Kalau di Jawa orang bangga bilang, “Ada Solo, ada keraton, ada peradaban.”

Di Madura seharusnya kita bisa bilang, “Ada Sumenep, ada pusat sejarah, ada jati diri.”

Masalahnya… yang kedua ini mulai terdengar seperti slogan kosong.

Keraton Sumenep masih berdiri gagah. Catnya mungkin diperbarui. Halamannya bersih. Tiket masuk ada. Spot foto juga ada.

Yang tidak ada: kesadaran bahwa itu adalah pusat identitas orang Madura.

Kita ramai datang ke sana saat ada event. Saat ada tamu. Saat butuh latar foto yang estetik. Tapi jarang sekali datang dengan satu niat: belajar siapa kita sebenarnya sebagai orang Madura.

Keraton pelan-pelan berubah fungsi.

Dari sumber nilai, menjadi latar belakang selfie.

Budaya Kita Mulai Jadi Pajangan

Warisan Kerajaan Sumenep itu bukan cuma bangunan.

Itu sistem nilai. Itu tata krama. Itu bahasa halus. Itu cara orang Madura memuliakan orang tua, menghormati tamu, menempatkan diri dalam masyarakat.

Tapi hari ini?

Bahasa halus makin jarang dipakai.

Tradisi muncul cuma saat seremoni.

Anak muda lebih hafal tren TikTok daripada sejarah keratonnya sendiri.

Kita hidup di dalam budaya Madura… tapi tidak lagi sadar sedang menjalaninya.

Inilah yang berbahaya:

kehilangan identitas tanpa merasa kehilangan apa-apa.

Pemerintah Sibuk Branding, Masyarakat Sibuk Nonton

Ada festival. Ada event budaya. Ada branding pariwisata. Semua terlihat bagus di poster.

Tapi budaya tidak bisa hidup dari panggung event.

Budaya hidup dari kebiasaan sehari-hari.

Selama keraton hanya dipromosikan sebagai destinasi wisata, bukan sebagai pusat pendidikan budaya, maka yang tumbuh adalah ekonomi fotonya — bukan kesadaran sejarahnya.

Stakeholder bicara pelestarian.

Masyarakat datang sebagai penonton.

Padahal yang dibutuhkan: keterlibatan, bukan keramaian.

Kenapa Solo Bisa, Sumenep Tidak?

Di Surakarta, keraton itu hidup. Bukan karena bangunannya, tapi karena budayanya dipakai sehari-hari. Bahasanya diajarkan. Seninya dilatih. Tradisinya dijalankan.

Di sana, keraton bukan masa lalu. Ia bagian dari hari ini.

Di Sumenep, keraton mulai terasa seperti cerita lama yang kita hormati… tapi tidak kita jalani.

Kalau Madura Mau Punya Harga Diri Kultural

Banyak yang bicara Madura sebagai provinsi. Bicara kemandirian. Bicara identitas.

Tapi identitas itu tidak lahir dari peta wilayah.

Ia lahir dari sejarah yang dijaga.

Dan sejarah Madura itu pusatnya di Sumenep.

Kalau Sumenep gagal merawat jati dirinya, maka Madura nanti hanya jadi wilayah administratif tanpa jangkar peradaban.

Punya wilayah.

Tapi miskin makna.

Yang Hilang Bukan Keratonnya. Tapi Kesadaran Kita.

Keraton masih ada.

Tradisi masih ada.

Sejarah masih utuh.

Yang pelan-pelan hilang adalah rasa memiliki.

Kita bangga jadi orang Madura.

Tapi malas belajar kenapa kita bisa jadi orang Madura.

Dan mungkin, inilah ironi paling sunyi di Sumenep hari ini.

Tinggalkan Balasan