Ritual Jamasan Keris Keraton Sumenep 2025 ; Ini Harapan Empu Keris Perempuan Sumenep

Foto Empu Ika Arista Saat memaparkan di acara ritual jamasan keris keraton Sumenep

Sumenep Okaranews.id Pemerintah Kabupaten(Pemkab) Sumenep Menggelar Ritual Jamasan Keris Keraton Sumenep dan Pusaka leluhur bertempat di desa Wisata keris aengtong – tong Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep Jawa Timur , adapun Ritual Jamasan Keris Keraton Sumenep dan Pusaka Leluhur ini di selenggarakan tiap tahun dan masuk kalender event yang selenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan pariwisata kabupaten sumenep .

Ika Arista Empu keris perempuan asal Desa Aeng Tong-Tong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep Jawa Timur menyatakan bahwa digitalisasi menjadi langkah penting dalam mendukung promosi dan pemasaran kerajinan keris. Hal ini disampaikannya di sela-sela kegiatan Jamasan Pusaka yang digelar terbuka untuk umum sejak 2018.

“Kami sangat terbantu dengan penjualan online. Sekarang ada kerja sama dengan para mahasiswa untuk membuat aplikasi jual beli keris secara digital,” tutur Ika .

Melalui aplikasi tersebut, setiap keris akan ditampilkan dalam foto dari berbagai sisi, lengkap dengan spesifikasi dan kontak langsung pengrajinnya. Tujuannya adalah mempermudah calon pembeli, terutama dari luar daerah, untuk mengenali dan membeli keris tanpa harus datang langsung ke Aeng Tong-Tong.

Desa Aeng Tong-Tong sendiri ditetapkan sebagai Desa Wisata Keris pada tahun 2018. Sejak saat itu, berbagai kegiatan budaya seperti Jamasan Pusaka mulai dibuka untuk masyarakat luas. Tradisi tersebut sebelumnya hanya dilakukan secara internal oleh komunitas empu setempat.

“Tradisi jamasan ini adalah warisan para empu, bukan tradisi keraton. Semua mantra dan tata cara dilakukan berdasarkan tradisi leluhur kami,” jelas Ika.

Kegiatan Jamasan tahun ini mengusung tema “Ngopeni Semangat”, sejalan dengan kalender event Kabupaten Sumenep. Berbeda dari tahun sebelumnya yang mengangkat PentaHelix, tahun ini fokus pada merawat ingatan kolektif masyarakat melalui pameran arsip.

“Pameran ini menampilkan cerita-cerita lokal, sejarah empu, hingga kebudayaan desa sebagai bentuk pelestarian memori,” terang Ika.

Selain promosi budaya, langkah digitalisasi juga diharapkan mampu memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk mengenal dan memiliki keris khas Aeng Tong-Tong.

“Ia bisa lebih mempermudah pengrajin dan juga pembeli. Mereka yang dari luar kota kini bisa mengakses langsung karya kami,” pungkas Ika.

Tinggalkan Balasan