Pelantikan PCNU Sumenep 2026–2031, Pengurus Baru Didominasi Kalangan Akademisi dan Pesantren

Avatar of Okaranews.id
Foto Saat Prosesi Pelantikan PCNU Periode 2026-2031(Doc.OkaraNews.id)

Sumenep OkaraNews.id Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep masa khidmat 2026–2031 menjadi momentum penegasan arah baru organisasi, mulai dari penguatan kaderisasi, sinergi pembangunan daerah, hingga peneguhan peran strategis NU dalam skala nasional dan internasional.

Ketua PCNU Sumenep, KH. Md Widadi Rahim menegaskan bahwa proses kaderisasi di tubuh NU Sumenep berjalan sukses dan melahirkan sumber daya manusia unggul. Menurutnya, mayoritas pengurus yang dilantik memiliki latar belakang pendidikan tinggi, mulai jenjang S1 hingga S3, serta berasal dari lingkungan pesantren.

“Kaderisasi NU berhasil. Pengurus kami mayoritas berlatar belakang pendidikan tinggi dan mayoritas juga berasal dari pesantren,” ujarnya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus sebelumnya yang dinilai berhasil meletakkan fondasi organisasi dengan baik hingga mampu melahirkan generasi kader berkualitas.

“Terima kasih kepada pengurus sebelumnya atas dedikasinya sehingga hari ini kita memiliki SDM unggul,” katanya.

Sementara itu, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk terus bersinergi dengan NU dalam menjawab berbagai persoalan daerah.

Menurutnya, NU memiliki posisi strategis dalam pembangunan sosial kemasyarakatan sehingga kolaborasi dengan pemerintah menjadi kebutuhan penting demi kemajuan daerah.

“Pemda berharap sinergitas untuk kebaikan Sumenep. Banyak persoalan daerah yang membutuhkan kolaborasi bersama, seperti kemiskinan, IPM, TPT dan lainnya,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pengurus lama atas kontribusi dan pengabdian yang telah diberikan, sekaligus mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus baru yang resmi dilantik.

“Kami berkomitmen hadir bersama NU Sumenep dan mendukung langkah-langkah organisasi demi kemajuan masyarakat,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf mengingatkan bahwa tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah telah tumbuh kuat di tengah masyarakat jauh sebelum Nahdlatul Ulama didirikan.

Menurutnya, para kiai sejak dahulu telah menjalankan khidmah kepada umat melalui pesantren dan gerakan sosial keagamaan. Kehadiran NU kemudian menjadi wadah untuk menyatukan kekuatan besar para ulama tersebut.

“Sebelum NU berdiri, tradisi Islam Aswaja sudah mengakar dan banyak pesantren telah berdiri lebih dahulu,” katanya.

Ia menegaskan bahwa KH. Hasyim Asy’ari mendirikan NU dengan semangat persatuan, kasih sayang, dan cinta antarsesama ulama sebagaimana tertuang dalam Qanun Asasi NU.

“Mari kita ingat kembali tujuan paling mendasar didirikannya NU dan bersatu secara lahir maupun batin,” tegasnya.

Yahya Cholil Staquf juga memaparkan arah transformasi PBNU yang meliputi transformasi jam’iyyah, reposisi organisasi secara strategis di tengah konstelasi politik, serta penguatan peran internasional NU.

Ia meminta seluruh kader NU, khususnya di Sumenep, agar memiliki cara pandang yang lebih luas dan tidak hanya berpikir dalam lingkup daerah semata.

“Ketika berpikir arah jam’iyyah, mari berpikir tentang Indonesia. PCNU Sumenep harus memandang ke depan untuk Indonesia, bukan hanya Sumenep,” ujarnya.

Menurutnya, seluruh elemen NU merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus bergerak bersama menuju arah perjuangan yang sama.

“Kita harus bergerak bersama ke arah yang sama,” pungkasnya

*****

Tinggalkan Balasan