Rasanya seperti menjumpai suatu yang langka. Di sebuah county sebelah barat Kota Melbourne, Melton, menjumpai sekolah beridentitas Indonesia: Muhammadiyah Australia College (MAC)! Muncul rasa bangga ada bendera organisasi kemasyaratan Indonesia, berkibar di sebuah negara maju yang menjadi salah satu kiblat pendidikan dunia. Haru!
Jika itu adanya di Indonesia, sampai pelosok manapun, tentu tidak kaget, Ada belasan ribu sekolah Muhammadiyah di segala penjuru tanah air. Bahkan hampir 200an perguruan tingginya juga tersebar di kota-kota besar Indonesia. Tapi ini di negara maju, dan ternyata dalam tempo singkat, empat tahun sejak beroperasi pada tahun 2022, sudah mempunyai 208 siswa. Itu pun dibatasi, karena banyak calon siswa yang terpaksa ditolak, atau harus ngantri, karena keterbatasan kelas, guru, dan prasarana lainnya
“Kita tidak bisa menerima semuanya, karena ada aturan di sini sangat ketat, dan Kita harus menjaga mutu. Guru juga harus bersertifikasi,” kata Hamim Jufri yang menjadi Board of director MAC, didampingi Kepala Sekolahnya yang migran Singapura, Rozana Ramli, saat saya kunjungi awal Ramadhan ini, Kamis siang (19/2/26) di sekolah berlokasi di 1-3 Killarney Drive, Melton, Victoria, Australia.
Menurut Hamim, semula sekolah Muhammadiyah ini bukan di lokasi ini, Melton, yang 30an km dari Melbourne. Lahan yang disiapkan dan sudah dibeli sejak tahun 2017 itu jauh lebih luas, sekitar 10 hektar, di Narre Warren, bagian tenggara city of Melbourne. Sayangnya, dalam prosesnya, izin dari penduduk sekitar tidak diperoleh. Alasannya, jika ada sekolah akan timbul kemacetan. Ini membuat Pimpinan Muhammadiyah, yang di lapangan dibantu Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Australia berupaya mencari lokasi pengganti. Beruntung ada satu sekolah yang sudah tutup, namun izinnya masih bisa dimanfaatkan. Sekolah ini kemudian dibeli oleh Muhammadiyah.
Inklusif, Islami, dan Bermutu
Pembatasan siswa demi menjaga mutu ini sejalan dengan misi sekolah ini. Yakni, untuk menjadi centre of excelence (pusat keunggulan) dengan mempetemukan nilai-nilai Islam dengan standar tertinggi pendidikan Australia. Jadi bukan sekedar memenuhi standar pendidikan di sana, namun mencoba menggapai standar tertinggi.
Siswa-siswa sekolah ini ternyata sebagian besar berasal dari luar Indonesia. Siswa yang anak diaspora Indonesia kurang sepuluh persen. Lainnya dari komunitas Muslim lokal, atau anak-anak diaspora negara lainnya. “Ada yang dari Turki, Lebanon, Somalia, Australia, Bangladesh, Pakistan, dan lain-lain,” ujar Rozana yang menyelesaikan undergraduate dari National University of Singapore dan Graduate dari Deakin University Australia.
Jadi, ini betul-betul sekolah inklusif. Namun kurikulumnya memenuhi standar kurikulum Australia, hanya saja ditambah muatan terkait pelajaran Agamas Islam. Adanya pelajaran agama ini yang memang menjadi penarik orang tua anak-anak tersebut menyekolahkan ke sana. Itu juga menjadi ciri sekolah Muhammadiyah: Inklusif, Islami, dan bermutu.
Fasilitas lengkap
Di bagian depan halaman sekolah yang total luasnya sekitar 1,4 hektar ini, berkibar gagah tiga bendera, yang satu di antaranya adalah bendera Muhammadiyah yang berwarna Hijau. Dua lainnya bendera Australia dan Aborigin. Terharu juga melihat Bendera sang surya di sana, sambil membatin: pasti tak terpikirkan dan terbayangkan oleh Kyai Dahlan pada 113 tahun lalu, saat beliau mendirikan organisasi ini di Kampung Kauman Yogyakarta, akan hadir Sekolah Muhammadiyah di sini.
Untuk ukuran rata-rata sekolah di Indonesia, Sekolah Muhammadiyah, yang saat ini menampung kelas 1 sampai dengan kelas 9, terasa cukup mewah. Bahkan, dibanding kampus-kampus perguruan tinggi rata-rata Indonesia juga tidak kalah. Luasnya sekarang “baru” 1,4 hektar, namun bertahap ekspansi sejalan dengan masih banyaknya peminat untuk sekolah di sini.
“Tahun depan kita akan buka kelas 10 atau SMA. Dan ini membutuhkan tambahan lahan dan fasilitas lainnya.”




