Berita  

Ultimatum Cipayung Plus Sumenep: Reformasi Polri Harga Mati, Jika Tidak… Aksi Jilid II dengan Massa Lebih Besar

SUMENEP, OkaraNews.id – Ratusan massa dari berbagai elemen mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Regional Sumenep (PMII, IMM, GMNI, HMI dan BEMSU) turun ke jalan, Kamis (29/8/2025). Mereka menggelar aksi solidaritas menuntut pertanggungjawaban Polri atas insiden tewasnya sejumlah korban massa aksi, termasuk kader pergerakan muda Affan Kurniawan.

Pantauan di lapangan, aksi dimulai sejak pagi dengan arak-arakan massa yang memadati ruas jalan protokol menuju Mapolres Sumenep. Spanduk bertuliskan “Reformasi Polri Harga Mati” dan “Hentikan Represifitas Aparat” terbentang di tengah barisan. Orator secara bergantian menyuarakan kecaman keras terhadap brutalitas aparat yang dinilai melenceng dari amanah undang-undang.

Dalam siaran persnya, Cipayung Plus menegaskan bahwa Polri telah gagal menjalankan fungsi perlindungan, pengayoman, serta pelayanan kepada masyarakat sebagaimana amanat UU No. 2 Tahun 2002.

“Polri bukan lagi menjadi pengayom, melainkan berubah wajah menjadi alat represi. Insiden yang menewaskan saudara Affan dan kawan-kawan adalah bukti nyata. Kami mendesak pertanggungjawaban penuh secara transparan,” tegas koordinator aksi dari atas mobil komando.

Mereka juga mendesak Kapolri bertanggung jawab secara moral, bahkan jika perlu mundur dari jabatannya, karena dianggap gagal menjaga kepercayaan publik.

Adapun dalam tuntutannya, massa aksi menekankan:

1. Pertanggungjawaban Polri atas insiden kematian korban aksi, dengan mengadili oknum terkait secara transparan atas nama korban: Affan Kurniawan, Sarina Wati, Saiful Akbar, Muhammad Akbar Basri, Rheza Sendy Pratama, Sumari, dan Rusmadiansyah.

2. Jaminan penuh bagi keluarga korban yang ditinggalkan.

3. Mendesak Polres Sumenep berkomitmen bersama rakyat untuk melakukan reformasi institusi Polri.

4. Polres Sumenep wajib menjaga kebebasan berekspresi masyarakat tanpa tindakan represif.

5. Menghentikan intimidasi terhadap aktivis dan rakyat sipil.

6. Membebaskan pihak-pihak yang ditangkap selama aksi unjuk rasa 25, 28, dan 29 Agustus 2025.

7. Menegaskan komitmen Cipayung Plus untuk terus mengawal isu keadilan dan HAM.

8. Memberikan ultimatum: jika tuntutan diabaikan, akan digelar Aksi Jilid II dengan massa lebih besar.

Aksi ini diikuti ratusan massa gabungan dari PMII, IMM, HMI, GMNI dan BEMSU hingga organisasi kepemudaan lainnya yang tergabung dalam Cipayung Plus. Demonstran juga menyampaikan doa bersama untuk para korban yang gugur dalam aksi sebelumnya.

“Reformasi Polri adalah harga mati. Jika tuntutan ini tidak diindahkan, maka gelombang massa berikutnya akan lebih besar, lebih keras, dan lebih mendesak,” tutup pernyataan Cipayung Plus Sumenep.

Tinggalkan Balasan