Presiden yang kami hormati, Bapak Prabowo Subianto.
Izinkan kami, rakyat kecil dari ujung timur Madura, menyampaikan suara hati yang barangkali tidak terdengar di ruang-ruang rapat para pejabat dan para pengusaha besar yang kini mengelilingi program unggulan Bapak: Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program besar yang Bapak canangkan dengan niat mulia — untuk menyehatkan anak bangsa sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat kecil — kini di tingkat bawah, khususnya di Kabupaten Sumenep, mulai menunjukkan gejala penyelewengan serius dalam tata kelola dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi).
Ironis, karena semangat awal pemerataan justru kini terancam oleh rakusnya para pelaksana dan dominasi pengusaha besar yang menunggangi program ini demi keuntungan pribadi.
1. Dapur-dapur yang dikuasai tim besar
Dalam praktiknya, pembelanjaan bahan pangan untuk dapur MBG di Sumenep didominasi oleh pengusaha-pengusaha besar yang sudah “mengikat” pelaksana teknis di bawah dengan iming-iming keuntungan besar.
Bahkan, tak sedikit di antara mereka dikunci dengan kontrak uang muka, agar semua pengambilan bahan dapur harus lewat “tim tertentu” yang sudah disiapkan sejak awal.
Kondisi ini bukan sekadar praktik curang, tapi sudah menjurus pada monopoli pasokan — sesuatu yang bertentangan dengan semangat kedaulatan ekonomi rakyat yang Bapak serukan.
2. Pengusaha lokal tersisih
Yang lebih memprihatinkan, para suplayer dan pelaku UMKM lokal di sekitar dapur SPPG justru tersingkir.
Alih-alih menjadi ruang pemerataan ekonomi, dapur-dapur ini kini berubah menjadi ladang profit besar bagi jaringan bisnis tertentu.
Padahal, cita-cita awal Bapak Prabowo sangat jelas: agar uang negara berputar di tingkat bawah, menghidupi petani, nelayan, pedagang pasar, dan pelaku usaha kecil di sekitar dapur.
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Para pengusaha kecil hanya jadi penonton.
Yang menumpuk keuntungan adalah mereka yang punya jaringan dan modal besar — bukan rakyat kecil yang Bapak bela.
3. Indikasi kecurangan dan penurunan kualitas
Lebih jauh lagi, indikasi kecurangan dalam proses pembelanjaan pun mulai tercium.
Kasus bahan makanan yang ditemukan berulat di beberapa dapur bukan sekadar keteledoran, tapi bisa menjadi bukti bahwa proses pengadaan dilakukan tanpa seleksi ketat dan lebih mementingkan untung cepat ketimbang kualitas pangan bergizi untuk anak-anak bangsa.
—
Seorang pengusaha daging ayam lokal di Sumenep dengan tegas mengatakan:
“Kami hanya ingin keadilan. Kami ingin Presiden tahu bahwa kami di daerah ini siap membantu menyukseskan program MBG, asal tidak dimatikan oleh permainan licik orang-orang yang haus untung. Kami minta kehadiran negara, bukan sekadar proyek besar tanpa pengawasan.”
—
Presiden yang kami hormati,
Rakyat di bawah masih percaya bahwa niat Bapak tulus. Tapi kepercayaan ini bisa hancur kalau perilaku rakus dan licik para pelaksana program di daerah tidak segera ditertibkan.
Kami memohon agar pengawasan langsung dari pusat diperkuat, audit menyeluruh terhadap tata kelola dapur dilakukan, dan semua pelaksana yang bermain curang dicopot tanpa kompromi.
Program “Makan Bergizi Gratis” adalah wajah kemanusiaan dan keadilan sosial yang Bapak janjikan. Jangan biarkan wajah itu dikotori oleh kerakusan segelintir orang yang menunggangi niat baik Bapak.
Hormat kami,
Tokoh Muda Lenteng – Sumenep
***










