Opini  

Sulaisi Abdur Rozaq dan Cermin yang Retak: Ego Tak Pernah Menang di Pengadilan

Ketika dua pengacara hebat saling berhadapan, publik berharap pertarungan intelektual yang sehat, bukan adu ego yang memuakkan. Sayangnya, dalam beberapa pekan terakhir, publik Sumenep disuguhkan drama yang tidak memperkaya dunia hukum, justru memiskinkan nilai bijak dan kedewasaan seorang profesional hukum.

Adalah Sulaisi Abdur Rozaq, pengacara yang kerap tampil dengan aura percaya diri tinggi, seakan dialah satu-satunya pembaca kitab hukum yang sah di negeri ini. Di seberangnya, Ach. Supyadi, sosok tenang, jarang bereaksi emosional, namun hampir selalu memenangkan pertarungan ketika mereka dipertemukan dalam satu medan perkara.

Bukan sekali dua kali Sulaisi harus menelan kekalahan dalam kasus yang mempertemukannya dengan Supyadi. Namun alih-alih bercermin, Sulaisi justru sibuk membangun narasi pembenaran diri, seolah kekalahan bukan karena lemahnya argumen, melainkan karena pihak lawan lebih lihai memutar logika. Sikap yang bagi kami, lebih pantas disematkan pada politisi frustrasi, bukan seorang advokat.

Apa yang terjadi saat ini tak ubahnya psy war murahan yang berisiko menurunkan marwah profesi advokat. Perbedaan pendapat dalam strategi hukum adalah hal lumrah. Namun ketika perbedaan itu dibumbui ego, publik akan mulai kehilangan rasa hormat.

Sulaisi perlu berkaca. Publik bisa membedakan mana pengacara yang berjuang demi kebenaran, dan mana yang berjuang demi citra dan harga diri semu. Kalah atau menang di pengadilan bukan soal gengsi, tapi soal pembuktian hukum dan itu, tak bisa dimenangkan dengan status Facebook dan atau medsos, gestur pongah, atau kalimat sok pintar.

Kami tetap menghargai Sulaisi sebagai aset hukum daerah. Tapi kami lebih menghargai sikap rendah hati dan keberanian untuk mengakui bahwa tak semua pertarungan harus dimenangkan dengan mulut. Kadang, diam dan bekerja dalam senyap seperti yang dilakukan Ach. Supyadi, justru lebih bermakna.

Tinggalkan Balasan