Opini  

Ramadan dan Etos Pengabdian Intelektual Muhammadiyah

Avatar of Okaranews.id
Foto Ilustrasi Penulis

Ramadan selalu hadir sebagai momentum spiritual yang sarat makna. Namun bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah, Ramadan tidak cukup dimaknai sebatas ritual tahunan yang berorientasi pada kesalehan individual. Lebih dari itu, Ramadan adalah ruang refleksi ideologis dan energi transformasi untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai pengabdian dalam gerakan dakwah yang berkemajuan.

Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa adalah membentuk manusia bertakwa (la‘allakum tattaqun). Takwa bukan sekadar kesalehan personal, melainkan kesadaran moral yang melahirkan tanggung jawab sosial. Dalam konteks Muhammadiyah, takwa harus bertransformasi menjadi etos pengabdian yang terstruktur, terorganisir, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Ramadan: Dari Spiritualitas ke Gerakan Sosial

Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah diproyeksikan KH. Ahmad Dahlan sebagai gerakan tajdid—gerakan pembaruan yang memadukan kemurnian akidah dengan kemajuan peradaban. Spirit Ramadan sesungguhnya sejalan dengan karakter tersebut.

Puasa melatih pengendalian diri, disiplin waktu, dan kepekaan sosial. Secara psikologis, ibadah ini membentuk self-regulation dan empati. Secara sosiologis, ia memperkuat solidaritas kolektif. Nilai-nilai ini merupakan fondasi utama organisasi modern yang sehat dan berintegritas.

Ramadan dengan demikian adalah madrasah kepemimpinan moral. Ia menata ulang orientasi kader: dari kepentingan pribadi menuju kemaslahatan umat; dari ambisi jabatan menuju kontribusi nyata.

Pengabdian: Manifestasi Tauhid Sosial

Muhammadiyah memaknai tauhid tidak berhenti pada dimensi teologis, tetapi menjelma dalam amal usaha pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga advokasi hukum. Inilah yang sering disebut sebagai tauhid sosial—keimanan yang bekerja.

Pengabdian kepada persyarikatan bukanlah loyalitas buta, melainkan komitmen intelektual dan moral untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam berkemajuan. Di sinilah Ramadan memainkan peran penting: membersihkan niat, meluruskan orientasi, dan memperkuat integritas.

Sebab organisasi besar tidak runtuh karena kekurangan sumber daya, melainkan karena krisis keteladanan dan melemahnya etika kolektif.

Dimensi Intelektual Ramadan

Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an—kitab ilmu dan peradaban. Tradisi tadarus sejatinya bukan hanya membaca, tetapi memahami, mengkaji, dan mengaktualisasikan nilai-nilainya dalam kehidupan publik.

Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu dituntut untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum penguatan budaya literasi dan pemikiran kritis. Tantangan zaman—disrupsi digital, ketimpangan ekonomi, krisis moral—memerlukan respons berbasis riset dan gagasan, bukan sekadar retorika.

Pengabdian kader harus bersandar pada profesionalitas (itqan), transparansi, dan akuntabilitas. Inilah bentuk kesalehan institusional yang relevan dengan kebutuhan bangsa.

Ramadan dan Evaluasi Organisasi

Ramadan juga mengajarkan evaluasi diri (muhasabah). Dalam konteks persyarikatan, muhasabah berarti menilai sejauh mana amal usaha benar-benar menjawab problem umat. Apakah keberadaan kita menjadi solusi atau sekadar simbol? Apakah gerakan ini tetap progresif atau terjebak dalam rutinitas administratif?

Semangat menahan diri selama puasa seharusnya menumbuhkan budaya anti-korupsi, anti-penyalahgunaan amanah, dan anti-konflik kepentingan. Nilai integritas yang dibangun selama Ramadan harus berlanjut dalam tata kelola organisasi sepanjang tahun.

Meneguhkan Islam Berkemajuan

Hikmah terbesar Ramadan bagi Muhammadiyah adalah transformasi spiritual menjadi gerakan peradaban. Ketakwaan personal harus melahirkan keberanian moral; kesalehan ritual harus menjelma menjadi pengabdian sosial; dan semangat ibadah harus memperkuat kerja-kerja intelektual.

Muhammadiyah berdiri bukan karena kekuasaan politik, melainkan karena keikhlasan, ilmu, dan pengorbanan kader-kadernya. Ramadan mengingatkan kembali bahwa kekuatan sejati gerakan ini terletak pada integritas dan kapasitas intelektual warganya.

Akhirnya, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan konsolidasi nilai. Ia meneguhkan kembali bahwa pengabdian kepada persyarikatan adalah bagian dari pengabdian kepada umat dan bangsa.

Dan di situlah takwa menemukan maknanya yang paling nyata: bekerja dengan ikhlas, berpikir dengan jernih, dan berjuang dengan beradab untuk kemajuan bersama.

*****

Tinggalkan Balasan