Opini  

Politik Pecah Bambu dan Luka Pengkhianatan dari Dalam

Di setiap perjalanan organisasi, gerakan, bahkan bangsa yang paling menyakitkan bukan serangan dari luar, melainkan tusukan dari dalam. Seperti bambu yang tampak kokoh saat berdiri bersama, namun mudah dipatahkan ketika satu bagian diangkat dan yang lain diinjak, demikian pula cara perpecahan seringkali dirancang: halus, rapi, tapi mematikan.

Model pecah bambu bukan sekadar strategi kolonial masa lalu. Ia hidup subur hari ini, dikemas dalam komunikasi manis, jargon persatuan, dan rapat-rapat penuh senyum. Tapi di baliknya, ada operasi sunyi: membenturkan tokoh dengan basisnya, mengangkat satu faksi sambil menggembosi yang lain, menjanjikan loyalitas sambil menyuntikkan racun kecurigaan.

Dan celakanya, pengkhianatan semacam ini sering datang dari mereka yang pernah duduk satu meja, berbagi visi, dan bersumpah setia. Mereka yang mengenal celah-celah di dalam, lalu menjualnya ke luar. Bukan demi kebaikan bersama, melainkan demi kepentingan pribadi atau kelompok kecil.

Perpecahan yang lahir dari pengkhianatan internal lebih berbahaya ketimbang tekanan eksternal. Ia tidak hanya melemahkan struktur, tetapi juga mencabik kepercayaan. Sekali pecah, sulit utuh kembali. Karena luka dari orang dekat lebih sulit sembuh dibanding serangan musuh yang nyata.

Inilah saatnya kita waspada terhadap gaya komunikasi pecah bambu: yang satu diangkat, yang lain diinjak. Jangan sampai kita menjadi alat atau korban. Sebab dalam politik adu domba, yang menang bukan yang benar, tapi yang licik.

Persatuan sejati tidak dibangun dari kepura-puraan dan manuver di balik layar. Ia lahir dari kejujuran, kesetiaan, dan keberanian menolak politik belah bambu, meski dibungkus dalam nama strategi atau diplomasi.

Tinggalkan Balasan