Opini  

Peran Penting Pemberdayaan Perempuan Pesisir Dalam Meningkatkan Pendapatan Nelayan

Foto Sukroniyah SH. (Foto Istimewa Okaranews.id )

Indonesia merupakan negara kepulauan yang diakui dunia internasional dalam konvensi hukum laut PBB ketiga (UNCLOS 1982), kemudian disahkan oleh Indonesia dalam UU Nomor 17 tahun 1982.

Berdasarkan UNCLOS 1982 total luas wilayah laut indonesia menjadi 5,9 juta km2 yang terdiri dari 3,2 juta km2 perairan teritorial dan 2,7 juta km2 perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Oleh karena itu, Indonesia disebut sebagai negara kepulauan terbesar di dunia (the biggest Archipelago in the world).

Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, lebih jelas mengakui eksistensi sektor kelautan dan perikanan serta pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sebagai salah satu agenda pembangunan nasional.

Namun realitasnya, pembangunan maupun pemberdayaan bidang kelautan dan perikanan hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal, padahal tersimpan potensi sumber daya laut yang sangat besar. Salah satu cara untuk menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai arus utama pembangunan nasional adalah dengan pemberdayaan terpadu kepada masyarakat pesisir dan kelautan.

Pemberdayaan adalah proses mengembangkan, memandirikan, menswadayakan dan memperkuat posisi masyarakat lapisan menengah bawah. Dalam hal ini, pemberdayaan masyarakat pesisir berarti memberikan kemampuan dan kemandirian kepada masyarakat terutama perempuan pesisir untuk mengembangkan potensi dan mengelola sumber daya laut yang ada di sekitar mereka untuk membantu meningkatkan perekonomian. Pemberdayaan dapat dilakukan baik dalam hal pemberian gagasan, pendampingan proses produksi sampai dengan proses pemasaran.

Perempuan pesisir memiliki beberapa fungsi yang sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan sosial keluarga nelayan. Contohnya istri nelayan, memiliki kontribusi yang besar dalam menciptakan kesejahteraan sosial ekonomi keluarga dengan berbagai cara, seperti membantu mengelola hasil tangkapan laut dan pengelolan penghasilan nelayan. Akan tetapi terkadang tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan atau diinginkan.

Contoh kasus di salah satu wilayah di Sumenep Jawa Timur di sana terjadi suatu proses interaksi seperti umumnya masyarakat pesisir yang dimana peran seorang laki-laki pergi melaut untuk mencari ikan dan peran wanita menjual hasil tangkapan untuk menghasilkan uang.

Tidak jarang terjadi proses jual beli ikan langsung saat proses penurunan ikan dari perahu. Fenomena tersebut terus terjadi secara berkelanjutan yang dimana kurangnya pengetahuan serta keterampilan Perempuan di wilayah tersebut. Hal ini karena mereka hanya menjual ikan dalam bentuk mentah ataupun cuma diasapkan saja, yang dapat dikatakan kurang inovatif.

Tujuan dari pemberdayaan perempuan pesisir ini diharapkan mereka mampu mengolah hasil laut terutama olahan ikan menjadi lebih beragam, sehat dan mampu di jual hingga pasar internasional.

Olahan ikan yang unik serta memiliki cita rasa yang pas tentu saja akan menjadikan suatu olahan tersebut menjadi laku, dengan meningkatnya jumlah penjualan yang dihasilkan oleh olahan-olahan baru tentu saja akan meningkatnya jumlah pendapatan.

Upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah sangat penting dilakukan karena dengan adanya pemberdayaan terutama pada perempuan pesisir tentu saja akan mengubah suatu pola baik itu interaksi, keterampilan bahkan pendapatan keluarga nelayan. Akan tetapi, suatu pemberdayaan yang akan dilakukan tidak akan berjalan sesuai rencana apabila kurangnya partisipasi aktif dari masyarakat yang akan di kembangkan.

Oleh karena itu dengan mengembangkan partisipatisi masyarakat diharapkan kepada perempuan-perempuan pesisir untuk ikut aktif dalam suatu proses pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan pemerintah guna memberdayakan para perempuan pesisir yaitu melakukan sosialisasi, dalam kegiatan ini pemerintah memberikan informasi kepada perempuan, bahwa ikan tidak hanya dapat dijual dalam bentuk mentah ataupun cuma diasapi, tetapi ikan dapat diolah menjadi makanan-makanan yang memiliki harga cukup tinggi.

Dalam kegiatan sosialisasi ini juga harusnya diperkenalkan olahan-olahan produk dari ikan yang sebelumnya belum ada, sehingga diharapkan dapat membuka pola pikir perempuan pesisir terhadap pengelolaan ikan.

Pemberian modal usaha, bantuan ini dapat berupa bantuan dana, peralatan atau bahan baku yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi usaha perempuan pesisir.

Dengan adanya bantuan tersebut diharapkan perempuan pesisir mampu untuk mengolah ikan dengan beraneka ragam jenis olahan. Mengontrol secara rutin, peran pemerintah di sini juga sebagai pengawas dan pengarah, suatu proses yang dilakukan secara terarah dan terstruktur akan mendapatkan hasil yang memuaskan.

Mengontrol secara rutin juga dapat memberikan jawaban terhadap indicator terlaksananya suatu pemberdayaan dan dapat mengetahui secara nyata faktor keberhasilan dan faktor kegagalan suatu program pemberdayaan.

Adapun olahan-olahan yang dapat dijadikan acuan oleh para perempuan pesisir yang berbahan dasar ikan yang berpotensi untuk di kembangkan yaitu:

  1. Abon ikan

Abon ikan adalah produk olahan ikan yang di awetkan dengan cara pengawetan tradisional, abon ikan ini biasanya menggunakan bumbu rempah rempah tradisional yang mudah di dapatkan. Perempuan pesisir dapat membuat abon ikan yang menggunakan kemasan yang menarik sehingga membuat konsumen tertarik untuk membelinya.

  1. Mie rumput laut

Mie rumput laut dapat dijadikan salah satu acuan untuk dijadikan sumber penghasilan. Rumput laut yang biasanya memiliki harga yang murah kemudian setelah diinovasikan akan menjadi nilai jual yang tinggi.

 

  1. Seafood krispy, tidak kalah dengan olahan lainnya.

Olahan seafood krispy dapat dikemas menggunakan wadah yang menarik sehingga memiliki daya tarik pembeli. Selain olahan-olahan tersebut masih banyak lagi olahan yang harusnya dicoba untuk di produksi. Olahan-olahan tersebut dapat dipasarkan baik secara langsung kepada pengunjung pantai ataupun dititipkan pada supermarket terdekat.

Tujuan dari adanya pemberdayaan masyarakat pesisir tidak lain untuk mensejahterakan masyarakat. Masyarakat pesisir juga harus selektif terhadap tingkat konsumsinya (tidak konsumtif) seperti hanya membeli barang yang di butuhkan bukan yang di inginkan.

Dengan adanya pemikiran tersebut akan menjadikan masyarakat pesisir menjadi masyarakat yang tidak selalu merasa kekurangan dalam hal perekonomian. Pemberdayaan perempuan pada masyarakat pesisir tidak akan tercapai apabila hanya dilakukan oleh pihak pemerintah saja.

Masyarakat yang akan diberdayakan sudah seharusnya melakukan keterbukaan kepada pemerintah dengan menyampaikan faktor-faktor penghambat kemajuannya. Oleh sebab itu pemerintah menjadi tahu apa yang sebenarnya menjadi hambatan terhadap suatu proses kemajuan.

Mie rumput laut dapat dijadikan salah satu acuan untuk dijadikan sumber penghasilan. Rumput laut yang biasanya memiliki harga yang murah kemudian setelah diinovasikan akan menjadi nilai jual yang tinggi.

  1. Seafood krispy, tidak kalah dengan olahan lainnya.

Olahan seafood krispy dapat dikemas menggunakan wadah yang menarik sehingga memiliki daya tarik pembeli. Selain olahan-olahan tersebut masih banyak lagi olahan yang harusnya dicoba untuk di produksi. Olahan-olahan tersebut dapat dipasarkan baik secara langsung kepada pengunjung pantai ataupun dititipkan pada supermarket terdekat.

Tujuan dari adanya pemberdayaan masyarakat pesisir tidak lain untuk mensejahterakan masyarakat. Masyarakat pesisir juga harus selektif terhadap tingkat konsumsinya (tidak konsumtif) seperti hanya membeli barang yang di butuhkan bukan yang di inginkan.

Dengan adanya pemikiran tersebut akan menjadikan masyarakat pesisir menjadi masyarakat yang tidak selalu merasa kekurangan dalam hal perekonomian. Pemberdayaan perempuan pada masyarakat pesisir tidak akan tercapai apabila hanya dilakukan oleh pihak pemerintah saja.

Masyarakat yang akan diberdayakan sudah seharusnya melakukan keterbukaan kepada pemerintah dengan menyampaikan faktor-faktor penghambat kemajuannya. Oleh sebab itu pemerintah menjadi tahu apa yang sebenarnya menjadi hambatan terhadap suatu proses kemajuan.

Keanekaragaman sumber daya laut yang ada di Indonesia, sebenarnya dapat menjadikan masyarakat pesisir  menjadi sejahtera dalam hal ekonomi, akan tetapi realitanya masih banyak permasalahan yang terjadi pada masyarakat pesisir, terutama dalam hal pengelolaan hasil laut itu sendiri.

Ada slogan yang mengatakan “Miskin di Laut Yang Kaya” artinya masih banyak orang yang memiliki pendapatan yang menengah kebawah terutama masyarakat pesisir padahal sebenarnya memiliki sumber daya laut yang melimpah.

Oleh karena itu sudah seharusnya kita sebagai generasi muda sebagai penggerak dalam suatu proses pemberdayaan tersebut karena dengan pemberdayaan dapat meninggalkan hal-hal yang keterbelakangan tersebut. Namun perlu diingat juga pengambilan sumber daya laut baik itu ikan, rumput laut, kerang dan lain-lainnya harus dibatasi karena jika diambil secara besar-besaran dan terus menerus tentu saja akan menjadi kelangkaan suatu populasi bahkan dapat menimbulkan kepunahan dalam jangka waktu yang panjang.

Penulis: Sukroniyah SH (Koordinator Bidang Pendidikan Dan Pelatihan DPD KPPI Sumenep , Sekaligus Mahasiswa Pasca Sarjana UNIJA Sumenep)

Respon (6)

  1. Sebagai ibu dan istri, perempuan pesisir juga mendidik anak-anak serta menjaga keharmonisan keluarga di tengah kerasnya kehidupan nelayan. Stabilitas keluarga ini turut memengaruhi semangat kerja nelayan dan efektivitas mereka dalam melaut.

  2. Sebagai ibu dan istri,perempuan pesisir juga mendidik anak-anak serta menjaga keharmonisan keluarga di tengah kerasnya kehidupan nelayan. Stabilitas keluarga ini turut memengaruhi semangat kerja nelayan dan efektivitas mereka dalam melaut.

Tinggalkan Balasan