SUMENEP, OkaraNews.id – Tembakau Madura, yang dikenal sebagai “si daun emas”, bukan sekadar tanaman musiman. Ia adalah simbol kerja keras masyarakat, denyut ekonomi desa, dan napas harapan ribuan petani yang setiap tahunnya menggantungkan masa depan pada hasil panen mereka.
Dalam ekosistem ini, pengusaha tembakau lokal memainkan peran strategis dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka hadir sebagai mitra yang membantu menjaga nilai tembakau agar tetap tinggi di tengah persaingan pasar. Tidak hanya itu, mereka juga menciptakan akses langsung dari petani ke pasar, memangkas rantai tengkulak, dan menjadi penyambung kehidupan ekonomi Madura dari desa ke kota.
Kehadiran pengusaha lokal terbukti membantu meningkatkan harga tembakau, dan hal ini berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Oleh sebab itu, pemerintah semestinya tidak bersikap pasif. Sudah saatnya negara hadir untuk mendorong dan memberikan perlindungan nyata terhadap para pengusaha lokal. Baik dalam bentuk regulasi yang adil, pendampingan, maupun akses permodalan dan pemasaran.
Namun tentu, tidak ada sistem yang sempurna. Dalam praktiknya, bisa saja muncul isu atau persoalan terkait pengusaha lokal, baik dari sisi tata kelola, distribusi, atau relasi sosial dengan petani. Dalam situasi seperti ini, pemerintah harus hadir sebagai penengah yang arif dan bijaksana. Negara wajib mengambil jalan tengah sebagai penjaga keseimbangan ekosistem, bukan malah menyudutkan salah satu pihak tanpa dasar yang kuat.
Jika ada kekeliruan, mari luruskan bersama. Jika ada gesekan, mari cari solusi lewat musyawarah. Pengusaha lokal bukan musuh, melainkan mitra dalam perjuangan ekonomi rakyat.
Mari kita jaga ekosistem tembakau Madura dengan pikiran terbuka dan kebijakan yang adil. Tembakau adalah warisan, dan pengusaha lokal adalah penjaga nilainya. Bila pengusaha dilindungi, maka petani ikut sejahtera. Bila ekosistem dijaga, maka masa depan tembakau Madura akan terus bersinar sebagai kebanggaan dan kekuatan ekonomi masyarakat.
***














