Wahai para penguasa, berhentilah mengibarkan merah putih hanya untuk menutupi bau busuk pengkhianatan kalian. Merah putih bukan kain pelindung bagi pencuri uang rakyat. Ia adalah kain suci yang dibasuh darah para pejuang, bukan lap meja untuk makan kenyang dari hasil korupsi.
Jangan ajari kami tentang nasionalisme, sementara kalian merampas masa depan bangsa ini. Jangan bicara soal pengorbanan, sementara kalian mengorbankan rakyat demi tumpukan harta di rekening luar negeri.
Indonesia belum merdeka!
Selama kursi kekuasaan ditempati oleh tikus-tikus yang rakus, kemerdekaan hanya jadi slogan di spanduk dan baliho. Selama hukum bisa dibeli, selama keadilan tunduk pada uang, kemerdekaan hanya jadi cerita pengantar tidur untuk anak-anak sekolah.
Kalian menyebut diri sebagai penjaga bangsa, tapi siapa yang kalian jaga? Bangsa ini, atau kantong kalian sendiri? Kalian berfoto dengan bendera, tetapi hati kalian penuh noda. Kalian bersalaman dengan rakyat, tapi tangan itu masih hangat dari mencuri uang rakyat.
Wahai rakyat Indonesia, jangan lagi kita biarkan mereka bersembunyi di balik simbol negara! Jangan biarkan merah putih dipermainkan oleh tangan-tangan kotor! Nasionalisme sejati bukan diukur dari seberapa tinggi bendera dikibarkan, tetapi seberapa tegak kejujuran dan keadilan berdiri di negeri ini.
Kita adalah pewaris sah kemerdekaan. Dan tugas kita sekarang adalah melanjutkan perjuangan bukan melawan penjajah asing, tapi melawan pengkhianat dari dalam negeri. Lawan mereka yang menjual bangsa ini demi perut sendiri.
Ingatlah: merah putih bukan sekadar bendera. Ia adalah janji. Janji bahwa bangsa ini akan berdiri di atas kebenaran. Dan janji itu tidak akan pernah terwujud selama koruptor masih berkuasa.
Merdeka itu… ketika bendera berkibar, rakyat tersenyum, dan uang negara kembali untuk membangun bangsa, bukan membangun istana pribadi para penguasa.
Merdeka itu… ketika tidak ada lagi pengkhianat yang bersembunyi di balik rasa nasionalisme.










