Menjaga Nyala Dakwah: Refleksi atas Pesan KH. Ahmad Dahlan

Oleh : Affandi Ubala, S. Sos, M. H

Di tengah derasnya arus perubahan zaman, acapkali kita perlu menoleh sejenak ke masa lalu. Bukan untuk tenggelam dalam romantisme sejarah, melainkan untuk meneguhkan arah langkah perjuangan kita. Salah satu pesan agung yang diwariskan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berbunyi:

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”

Ungkapan sederhana ini memuat nilai yang sangat dalam. Ia bukan sekadar kutipan tokoh, namun merupakan cahaya petunjuk yang relevan sepanjang masa, terlebih dalam konteks dinamika kepemimpinan dan gerakan dakwah hari ini, termasuk di tubuh PDM Sumenep.

Muhammadiyah sebagai Amanah, Bukan Wahana Kepentingan

Dalam kerangka ilmu organisasi dan etika Islam, ungkapan KH. Dahlan menegaskan bahwa Muhammadiyah adalah ladang pengabdian, bukan ladang penghidupan. Maka, siapapun yang bergabung di dalamnya sepatutnya menanamkan niat ikhlas bukan untuk diuntungkan, tapi untuk memberi manfaat.

Teori etika kepemimpinan menuntut seorang pemimpin tak hanya cakap secara administratif, tapi juga memiliki komitmen moral dan integritas. Nilai al-amānah, ikhlāṣ, dan taʿāwun (kerja sama dalam kebaikan) adalah fondasi yang harus menjiwai seluruh elemen persyarikatan.

Dua Pesan, Satu Tujuan

Pernyataan KH. Ahmad Dahlan terbagi menjadi dua bagian yang saling mengisi:

1. “Hidup-hidupilah Muhammadiyah”

Ini adalah ajakan untuk terus menghidupkan ruh perjuangan, menjaga agar Muhammadiyah senantiasa dinamis, relevan, dan hadir menjawab kebutuhan umat.

2. “Jangan mencari hidup di Muhammadiyah”

Ini adalah pengingat yang sangat halus namun tegas. Organisasi ini bukan tempat untuk meraih keuntungan pribadi, melainkan wahana pengabdian tulus kepada umat dan bangsa.

Kalimat ini menjadi kompas moral yang tak lekang oleh waktu. Ia mengajarkan kesederhanaan niat dan kesungguhan amal dalam menapaki jalan dakwah.

Relevansi di Tubuh PDM Sumenep

Di tengah geliat dan semangat membangun amal usaha, lembaga, dan jaringan dakwah di Sumenep, muncul tantangan-tantangan yang tak kalah berat: ego sektoral, ambisi pribadi, dan tarik-menarik kepentingan dalam kepemimpinan. Kadang, tanpa disadari, orientasi berorganisasi mulai bergeser dari dakwah kolektif menuju arena pencitraan atau kekuasaan.

Di sinilah pesan KH. Ahmad Dahlan perlu menjadi bahan perenungan bersama. Bahwa membangun organisasi memang butuh semangat, tetapi merawatnya jauh lebih membutuhkan keikhlasan dan kerendahan hati.

Merawat berarti:

  • Menjaga semangat kolektif, bukan memperkuat kelompok tertentu.
  • Menjaga keluhuran visi, bukan sekadar memenangkan posisi.
  • Menanamkan keberlanjutan nilai, bukan sekadar menggugurkan program kerja.

***

Tinggalkan Balasan