OkaraNews.id, – Pernahkah kita membayangkan bahwa orang yang rajin shalat bisa saja dianggap mendustakan agama? Terdengar aneh memang, tapi inilah yang ditegaskan dalam surat Al-Ma’un. Dalam surat pendek ini, Allah tidak hanya menegur orang kafir, tapi juga umat Islam yang hanya mementingkan ibadah pribadi dan melupakan orang miskin, anak yatim, dan tetangga yang kesusahan.
KH. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah mengangkat surat ini sebagai pelajaran besar. Bagi beliau, agama bukan sekadar soal shalat dan puasa, tapi juga bagaimana kita peduli terhadap sesama.
Agama Itu Harus Membumi
Seringkali kita temui, seseorang rajin ke masjid, tetapi di sekeliling rumahnya ada anak-anak kelaparan, orang tua sakit, dan janda yang tak bisa bayar sewa rumah. Dalam surat Al-Ma’un, orang seperti itu justru disebut sebagai pendusta agama, meskipun shalatnya khusyuk.
KH. Ahmad Dahlan memaknai surat ini bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk diwujudkan dalam tindakan nyata. Maka lahirlah sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan program-program sosial Muhammadiyah yang kita lihat sampai hari ini. Semua itu berangkat dari satu pesan: Islam harus bermanfaat.
Hari ini, banyak orang terjebak pada formalitas ibadah. Rajin update status dakwah, tapi cuek saat tetangganya sakit dan butuh bantuan. Banyak yang dermawan saat di depan kamera, tapi pelit saat tak terlihat. Inilah saatnya kita kembali ke pesan Al-Ma’un:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Yaitu orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)
Teori Al-Ma’un mengajarkan bahwa keimanan sejati terlihat dari kepedulian sosial kita. Bukan hanya dari banyaknya hafalan doa atau jumlah ibadah sunnah.
Muhammadiyah dan Ajaran Al-Ma’un
Gerakan Muhammadiyah lahir dari semangat ini. KH. Ahmad Dahlan melihat banyak umat Islam saat itu taat beribadah tapi tidak peduli pada penderitaan di sekitarnya. Maka ia mendirikan sekolah, panti asuhan, dan rumah sakit sebagai bukti nyata bahwa Islam hadir untuk menolong, bukan hanya menasihati.
Kalau kita hari ini aktif di pengajian, rajin ikut kajian, tapi tidak pernah ikut urunan bantu tetangga yang kena musibah, berarti ada yang keliru dalam cara kita memahami agama.
Mari Hidupkan Al-Ma’un di Sekitar Kita
Tidak semua orang bisa mendirikan rumah sakit atau sekolah. Tapi semua orang bisa menolong sesama. Memberi makan anak yatim, membantu janda tetangga, ikut gotong royong membersihkan lingkungan, memberi tumpangan motor ke anak sekolah yang jalan kaki—semua itu adalah bentuk nyata dari ajaran Al-Ma’un.
Islam tidak menuntut kita menjadi malaikat. Tapi Islam menginginkan kita menjadi manusia yang peduli dan tidak menutup mata terhadap penderitaan orang lain.
KH. Ahmad Dahlan telah memberikan contoh nyata bahwa agama bukan sekadar di masjid, tapi juga di pasar, di jalan, di rumah tetangga, dan di hati mereka yang kesusahan.
Mari kita hidupkan ajaran Al-Ma’un, bukan hanya dibaca saat shalat, tapi benar-benar dihidupkan dalam tindakan sehari-hari. Karena, iman sejati adalah saat kita hadir untuk membantu, bukan hanya menghakimi.

















