Jakarta, OkaraNews.id — Angin dakwah moderat dari Indonesia ternyata tak berhenti di batas peta. Ia menyeberang laut, menepi di Palawan, dan kini mengetuk pintu resmi .
Selasa (7/6), rombongan Muhammadiyah Filipina bersilaturahmi ke Jakarta. Dipimpin Nhelbourne K. Mohammad—Ketua Majelis Ulama Provinsi Palawan—mereka datang bukan sekadar membawa salam, tetapi juga gagasan besar: menghadirkan Muhammadiyah secara resmi di negeri kepulauan itu.
Rombongan diterima langsung oleh Ketua Umum , Ketua Umum , Sekretaris Umum , serta jajaran Ketua PP lainnya.
Menurut Nhelbourne, masyarakat muslim Palawan telah lama membuka diri pada model gerakan Islam yang moderat, rasional, dan berkemajuan seperti Muhammadiyah.
“Kami sudah mendirikan Muhammadiyah sejak 2016, bahkan ‘Aisyiyah di sana yang paling aktif. Tapi belum diresmikan,” ungkapnya.
Dari Palawan Menuju Universitas Muhammadiyah Filipina
Bukan sekadar organisasi, mereka datang dengan visi. Sebagai akademisi sekaligus alumni , Nhelbourne membawa kabar yang mengejutkan: hibah lahan seluas 28 hektare dari para tokoh agama setempat.
Di atas lahan itu, mereka membayangkan berdirinya Universitas Muhammadiyah of Philippines (UMPhil), masjid, dan gedung dakwah.
Gayung bersambut. Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa Muhammadiyah siap membantu pembangunan Masjid At-Tanwir di lokasi tersebut. Namun secara kelembagaan, Muhammadiyah memiliki dua opsi internasionalisasi: PCIM atau Sister Organization.
Opsi kedua dinilai lebih realistis, dengan catatan telah mengantongi izin resmi dari pemerintah Filipina.
Muhammadiyah, Harapan Baru Muslim Filipina
Kehadiran Muhammadiyah di Filipina bukan tanpa alasan. Sejak lama, masyarakat muslim di selatan Filipina merindukan model pendidikan, dakwah, dan sosial yang terstruktur, modern, namun tetap berakar pada nilai Islam yang mencerahkan.
Pada 2019, bahkan Wakil Menteri Pendidikan Madrasah dari telah bertemu PP Muhammadiyah untuk membahas adopsi kurikulum pendidikan Muhammadiyah bagi generasi muda di sana.
Kini, keinginan itu kian nyata.
Muhammadiyah tak lagi hanya milik Indonesia. Ia mulai dibaca sebagai model gerakan Islam modern di kawasan Asia Tenggara—diterima bukan karena ekspansi, tetapi karena kebutuhan.
Dari Palawan, pesan itu dikirim:
Muhammadiyah dibutuhkan.



