SUMENEP, OkaraNews.id – Percakapan di salah satu grup WhatsApp warga Sumenep baru-baru ini membongkar wajah kelam Pulau Masalembu: dermaga sunyi di tengah lautan biru, tapi menyimpan ancaman narkoba yang tidak main-main.
Pulau kecil yang sepi itu diduga pernah menjadi tempat “parkir” sabu seberat 48 kilogram. Angka yang mencengangkan. Dan ini bukan gosip kampung. Jalur Masalembu-Sapeken-Raas kini makin dikenal sebagai “segitiga emas sabu” di ujung timur Madura.
Barang haram dari luar negeri disebut-sebut masuk lewat jalur laut menggunakan kapal ikan, dibongkar di pulau-pulau terpencil, lalu disalurkan hingga ke Surabaya, Jakarta, Bali, dan Lombok.
Peredarannya rapi. Terstruktur. Ada jalur darat dan laut yang saling menopang. Para bandar kecil menari di balik ombak, sementara aparat hukum tampak canggung, bahkan kadang terkesan tutup mata.
Satu fakta yang menggemparkan adalah temuan drum sabu yang berisi 100 kilogram kualitas ekspor dari Thailand. Dari jumlah itu, hanya 52 kilogram yang berhasil dikembalikan ke aparat. Sisanya? Entah menguap ke laut, atau telah dibagi-bagi dan menghilang dalam peredaran gelap.
Dengan hitungan kasar, 1 kilogram sabu bisa dipecah menjadi 5.000 paket kecil. Kalau benar 48 kilogram masih bebas, artinya ada 240.000 paket sabu yang bisa menghantam generasi muda.
Ironisnya, sabu Masalembu dikenal “kelas satu”, barang impor berkualitas tinggi. Di pasar gelap Masalembu, harganya justru “miring”, hanya Rp10 juta per kilogram. Alasannya jelas: barang harus cepat dibuang sebelum terendus aparat.
Fenomena ini tak bisa dianggap remeh. Terungkapnya dua warga Sumenep yang ditangkap di Sidoarjo dengan barang bukti lebih dari setengah ons, membuktikan bahwa jalur Masalembu bukan isapan jempol.
Di tengah gejolak itu, muncul pola klasik: para bos lama pura-pura pensiun, menyebut usia dan tobat sebagai alasan. Tapi di belakang layar, mereka tetap mengatur regenerasi. Anak-anak muda kini naik kelas sebagai bandar baru, sementara seniornya menepi, menunggu waktu untuk menari lagi.
Nama-nama pemain mulai tercium. Salah satunya, kasus di Tajamara, Kolor, Sumenep, jadi alarm keras. Dua tersangka ditangkap: satu pegawai harian lepas Dinas Perikanan, satunya putra pejabat di Dinas Kesehatan. Keduanya bukan bos besar – hanya kaki tangan dari naga besar yang belum tersentuh.
Yang menjadi korban selalu sama: rakyat kecil dan generasi muda. Dan yang dijadikan tameng pun tak pernah berubah.
Pertanyaan terbesar pun menggantung di udara Masalembu: Siapa dalangnya? Siapa bekingnya? Siapa yang menukar masa depan anak-anak kita dengan drum sabu di atas ombak?
Kalau penegakan hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, maka jangan harap Masalembu – dan Sumenep – bisa benar-benar bersih.
Kita mau apa? Tutup mata? Atau buka suara dan menuntut tuntas: siapa yang bermain di belakang bisnis sabu Masalembu? ***










