Sumenep, OkaraNews.id,- Di tengah gegap gempita perayaan Idul Adha yang penuh makna pengorbanan, ketua Banggar DPR RI sekaligus tokoh penguasa PDIP di Madura, Said Abdullah, kembali menyita perhatian publik. Tahun ini, ia berbagi 325 ekor sapi kurban yang disebar ke empat kabupaten di Madura, angka yang tentu luar biasa jika dilihat dari sisi kuantitas. Namun, di balik sorotan kilau daging dan gema takbir itu, ada ironi pahit yang tak bisa diabaikan begitu saja: kesenjangan antara narasi pengorbanan simbolik dan realitas korban nyata akibat proyek ambisius yang sarat pelanggaran dan dugaan nepotisme.
Salah satu contoh paling mencolok ada di jantung Kota Sumenep, tepatnya di kawasan Babbalan. Warga di sana bukan merayakan Idul Adha dengan sukacita, melainkan hidup dalam ketakutan akan bencana banjir dan longsor yang sewaktu-waktu bisa datang akibat proyek pengendali banjir yang dikerjakan secara amburadul. Proyek tebing sungai di belakang RS Baghraf Health Centre (BHC), yang katanya untuk menyelamatkan warga dari Longsor dan banjir, justru menjadi sumber ketakutan baru.
Lebih tragis lagi, pembangunan RS BHC diduga sarat kepentingan segelintir elite yang ingin memuluskan jalan proyek dengan berbagai pelanggaran aturan tata ruang. Pembangunan dilakukan di atas Lahan Pangan Pertanian Berkelanjutan (LP2B), yang jelas dilindungi dan diatur di PERMENTAN dan tidak boleh dialihfungsikan. Lebih jauh lagi, pendirian bangunan melanggar garis sempadan sungai dan aturan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sumenep. Seolah semua aturan bisa lentur di tangan kekuasaan, asal punya akses, kedekatan, dan kepentingan politik.
Apakah kurban ratusan sapi cukup untuk membungkam jeritan warga yang setiap musim hujan dihantui air bah dan tanah longsor? Apakah ini bentuk pengorbanan yang dimuliakan dalam ajaran agama, atau justru bentuk lain dari pengalihan isu untuk menutupi jejak oligarki yang terus menggerogoti ruang hidup rakyat kecil?
Idul Adha sejatinya adalah momentum refleksi. Tentang keikhlasan, pengorbanan, dan keadilan. Tapi di tangan kekuasaan yang korosif, makna itu bisa dengan mudah dibelokkan. Daging kurban dibagi-bagikan, tapi warga dibiarkan menggigil di tepi sungai yang rusak, memandangi tebing rapuh yang sewaktu-waktu bisa runtuh. Ini bukan lagi soal sapi, ini tentang siapa yang dikorbankan demi ambisi yang tak mengenal batas moral.
Sudah saatnya publik membuka mata. Bahwa di balik narasi indah “berbagi dalam Idul Adha”, ada kesenjangan yang mencolok antara mereka yang memanen pujian politik, dan mereka yang tiap hari harus berdoa agar rumahnya tidak hanyut karena proyek yang katanya demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Sumenep kedepan.
***

















