Sumenep Okaranews.id— Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Daerah Pamekasan–Sumenep Jawa Timur menggelar Musyawarah Daerah (Musda) III bertempat Lembaga Al Hidayah, Kabupaten Sumenep.
Musda mengusung tema “Kolaborasi dan Inovasi Menuju Pendidikan Bermutu.”
Musda III menjadi agenda penting organisasi dalam menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengurus masa bakti 2022–2026 sekaligus merumuskan arah kebijakan dan kepengurusan periode berikutnya.
Forum ini juga menjadi ruang evaluasi dan konsolidasi antar sekolah anggota JSIT di wilayah Pamekasan dan Sumenep.
Kegiatan tersebut dihadiri pengurus JSIT, perwakilan sekolah Islam terpadu, serta sejumlah pemangku kepentingan pendidikan.
Hadir dalam kesempatan itu Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, M. Fajar Hidayat, S.I.P., M.M., Ketua PGRI Sumenep Hudi Susila, S.Pd., Ketua PERGUNU Sumenep Moh. Solih, M.Pd., Ketua IGI Sumenep Faishal Habsyi, S.Si., M.Pd., serta perwakilan organisasi PAUD dari IGTK dan HIMPAUDI.
Ketua JSIT Indonesia Daerah Pamekasan–Sumenep dalam sambutannya menegaskan bahwa Musda merupakan momentum strategis dalam menentukan arah gerak organisasi.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sekolah dan inovasi berkelanjutan guna menjawab tantangan pendidikan yang semakin kompleks. JSIT, menurutnya, berkomitmen mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual dan karakter.
Ia juga memaparkan filosofi logo Musda III yang memadukan dua ikon daerah, yakni Arek Lancor sebagai simbol Kabupaten Pamekasan dan keris sebagai simbol Kabupaten Sumenep. Arek Lancor dimaknai sebagai semangat dan keteguhan, sedangkan keris melambangkan kewibawaan serta nilai luhur budaya. Perpaduan warna hijau, kuning, dan emas merepresentasikan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin serta harapan kejayaan pendidikan Islam terpadu.
Sementara itu, perwakilan Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Timur, Ustadz Siswandi, menyampaikan bahwa JSIT Indonesia terus berkembang sebagai jejaring sekolah Islam terpadu di seluruh Indonesia.
“Ia menyebutkan, di Jawa Timur terdapat sekitar 400 sekolah Islam terpadu dari total sekitar 2.800 sekolah anggota secara nasional.Ia juga menekankan pentingnya framework organisasi JSIT sebagai pedoman kebijakan, strategi, dan program prioritas pengembangan sekolah” pungkasnya
Musda III secara resmi dibuka oleh Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, M. Fajar Hidayat. Dalam sambutannya,ia menegaskan bahwa manajemen pendidikan menjadi faktor kunci dalam mencapai tujuan pendidikan. Ia juga mendorong integrasi sektor pendidikan dengan sektor sosial dan ekonomi guna menciptakan ekosistem pendidikan yang kondusif dan berkelanjutan.
Framework JSIT Indonesia, menurutnya, dapat menjadi grand design pendidikan yang mandiri dan berkualitas apabila diterapkan secara konsisten.
Melalui rangkaian sidang yang berlangsung secara musyawarah dan mufakat, Musda III memutuskan pemisahan kepengurusan JSIT Indonesia Daerah Pamekasan dan JSIT Indonesia Daerah Sumenep.
Keputusan ini diambil sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas pembinaan, koordinasi, dan pelayanan organisasi di masing-masing wilayah.
Sidang Musda diawali dengan pemaparan laporan pertanggungjawaban dari masing-masing kepala bidang, kemudian dilanjutkan dengan sidang terbuka dan tertutup. Dalam keputusan akhir sidang, ditetapkan kepengurusan baru untuk masa bakti 2026–2029.
Untuk JSIT Indonesia Daerah Pamekasan, kepemimpinan dipercayakan kepada Ustadz Habiburrahman, S.Pd. Sementara JSIT Indonesia Daerah Sumenep dipimpin oleh Amirullah, M.Th.I.
Musda III ditutup dengan harapan agar kepengurusan yang baru mampu menjalankan amanah secara maksimal, memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, serta menghadirkan inovasi berkelanjutan demi peningkatan mutu pendidikan Islam terpadu di Pamekasan dan Sumenep.
******
