YOGYAKARTA, OkaraNews.id, – Kabar duka datang dari keluarga besar Muhammadiyah. Drs. H. Abdul Rosyad Sholeh, tokoh sentral Persyarikatan, wafat pada Rabu (30/7) di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Kabar mengejutkan ini diterima redaksi OkaraNews.id sekitar pukul 17.00 WIB dari jejaring aktivis IMM Yogyakarta.
Kepergian Pak Rosyad, begitu ia akrab disapa meninggalkan duka mendalam bagi banyak kader, aktivis, dan warga Persyarikatan. Sosoknya bukan sekadar pemimpin, melainkan teladan hidup tentang integritas, ketekunan, dan loyalitas dalam perjuangan Muhammadiyah.
Dari Bojonegoro ke Yogyakarta: Langkah Sunyi Seorang Pejuang
Lahir di Bojonegoro tahun 1941, Rosyad kecil telah diuji dengan kehilangan ayahnya saat baru berusia delapan tahun. Pendidikan formalnya ia tempuh di Pesantren As-Salam Cepu dan kemudian PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) Yogyakarta, lembaga elite yang melahirkan banyak intelektual Muslim.
Di Yogyakarta, kedekatannya dengan Muhammadiyah semakin kuat. Ia berguru langsung kepada tokoh-tokoh seperti Djarnawi Hadikusumo. Sejak itu, prinsip hidupnya terbentuk: menjadi aktivis bukan berarti gaduh, melainkan terus bergerak dalam ketenangan.
IMM: Dari Pendiri Hingga Penjaga Ideologis
Karier organisasinya dimulai sejak muda. Pada 1961, ia menjadi Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Medan Baru, lalu menjabat posisi serupa di Sumatera Utara dan DIY. Puncaknya, bersama Djazman Al-Kindi dan Sudibyo Markus, ia turut mendirikan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada 1964, sebuah tonggak penting dalam sejarah gerakan mahasiswa Islam Indonesia.
IMM lahir dalam suasana debat dan penolakan, termasuk dari kalangan internal Muhammadiyah. Namun Rosyad muda berdiri tegak, meyakini bahwa IMM adalah bentuk tajdid Muhammadiyah untuk menghadapi dinamika ideologi kampus saat itu.
Naik dari Bawah: Organisator Tulen Muhammadiyah
Rosyad Sholeh bukan kader dadakan. Ia aktif di IMM hingga 1977, kemudian secara bertahap mengisi berbagai posisi strategis di Pimpinan Pusat Muhammadiyah:
- Anggota PP Muhammadiyah (1975–2000)
- Sekretaris PP Muhammadiyah (1985–1990)
- Wakil Ketua PP Muhammadiyah (2000–2005)
- Sekretaris Umum PP Muhammadiyah (2005–2010)
- Konsultan dan penasihat hingga akhir hayatnya (2010–2025)
Dalam tujuh kali Muktamar berturut-turut, ia dipercaya sebagai Ketua Pemilihan Anggota PP Muhammadiyah—membuktikan kepercayaan penuh terhadap integritasnya.
Sosok Sederhana yang Tak Pernah Menuntut, Tapi Diandalkan
Pak Rosyad bukan orator ulung, bukan pula pencari sorotan kamera. Namun ia dikenal sebagai pemimpin yang “bekerja dalam diam”. Sosoknya seperti bulan: memberi cahaya tanpa menyilaukan, menjadi penunjuk arah tanpa perlu suara keras.
Banyak aktivis muda datang ke rumahnya untuk belajar, meminta nasihat, atau sekadar berbincang. Ia menerima semua dengan senyum dan telinga yang siap mendengar.
Ungkapan hatinya yang ditulis saat menerima kartu anggota Muhammadiyah berbunyi:
“Hati ini bukan buku, yang bila telah usai dibaca bisa langsung ditutup. Tapi kuyakini, ketika langkah sudah kuayunkan, harus mantap.”
Warisan Abadi: Nilai dan Keteladanan
Pak Rosyad hidup dalam kesederhanaan. Ia tidak meninggalkan jabatan, tapi meninggalkan nilai-nilai. Ia bukan politisi organisasi, melainkan penjaga ruh Persyarikatan.
Ibunya pernah berpesan,
“NU apa Muhammadiyah, sing penting akhlak lan salate.”
(Mau NU atau Muhammadiyah, yang penting akhlak dan salatnya.)
Pesan itu menjadi napas hidupnya. Dalam organisasi, ia membesarkan Muhammadiyah bukan lewat pidato, tapi lewat kerja sunyi dan kaderisasi.
Selamat Jalan, Pak Rosyad
Kini, Muhammadiyah kehilangan satu penjaganya. Tapi warisan keteladanan itu akan terus hidup. Karena orang-orang seperti Pak Rosyad tidak benar-benar pergi. Mereka tinggal dalam ingatan, dalam sejarah, dan dalam langkah para kader penerusnya.
Drs. H. Abdul Rosyad Sholeh (1941–2025)
Kader sejati Muhammadiyah. Semoga Allah merahmatimu dan menerima semua amal baktimu.
***










