Opini  

Gempa dan Seismik di Madura: Isyarat Alam atau Jejak Eksplorasi Migas?

Foto : Misbahul Umam, S. Pd, Sekretaris PDPM Sumenep

SUMENEP, OkaraNews.id — Belakangan ini, Pulau Madura, khususnya wilayah kepulauan Sumenep, diguncang serangkaian gempa bumi yang terjadi berulang kali dalam rentang waktu yang relatif singkat. Fenomena ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat: apakah murni aktivitas alam, atau ada kaitan dengan aktivitas eksplorasi migas bawah laut yang kian masif?

Kekhawatiran itu kian menguat seiring maraknya aksi penolakan terhadap survei seismik yang dilakukan di beberapa titik perairan Sumenep. Warga, nelayan, hingga aktivis lingkungan bersuara lantang menolak kegiatan tersebut karena dianggap berpotensi merusak ekosistem laut dan mengancam stabilitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir.

“Kalau gempa datang terus setelah alat-alat seismik mulai turun ke laut, wajar kalau kami curiga. Ini tanah dan laut kami, bukan laboratorium mereka,” ungkap Misbahul Umam Sekretatis Umum Pemuda Muhammadiyah Sumenep , dengan nada geram.

Sejumlah pengamat menilai, situasi ini bukan sekadar konflik antara pembangunan dan lingkungan, melainkan bagian dari pola baru eksploitasi sumber daya alam yang dibungkus jargon investasi energi. Mereka menyebutnya sebagai bentuk “penjajahan modern” di mana daerah kaya potensi seperti Madura perlahan dijadikan ladang eksplorasi oleh korporasi besar, sementara masyarakat lokal hanya menjadi penonton.

Dugaan itu semakin kuat ketika aktivitas seismik tetap berlangsung meski ada gelombang penolakan dari masyarakat. Beberapa laporan lapangan bahkan menyebutkan adanya pressure dan pendekatan diam-diam untuk meloloskan izin di sejumlah wilayah pesisir.

Kini, masyarakat menuntut transparansi penuh dari pemerintah dan perusahaan terkait. Mereka mendesak adanya kajian ilmiah independen untuk memastikan apakah frekuensi gempa yang meningkat ini berkaitan dengan aktivitas bawah laut tersebut.

Bagi warga Madura, ini bukan sekadar isu lingkungan. Ini tentang hak atas ruang hidup, kedaulatan alam, dan masa depan generasi mereka.

Sebab, seperti kata salah satu aktivis muda Sumenep Misbahul Umam,

“Penjajahan zaman sekarang tidak datang dengan senjata, tapi dengan kontrak investasi dan data geoseismik.”

Tinggalkan Balasan