Opini  

Fenomena Unik di Kecamatan Talango, Bulan Maulid Penuh Khidmat

Foto Penulis Ahdit Ramli sekretaris majlis langgarra ate .

Bulan Maulid tahun ini menghadirkan fenomena yang berbeda di Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep. Jika pada tahun-tahun sebelumnya masyarakat masih menyisakan ruang untuk berbagai kegiatan non-keagamaan, kali ini suasana benar-benar terpusat pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hampir di setiap pelosok desa, mulai dari dusun hingga tingkat kecamatan, seluruh agenda masyarakat didominasi oleh acara Maulid, menjadikan bulan Rabiul Awal sebagai bulan penuh khidmat dan kebersamaan.

Sejak awal bulan, tanda-tanda perubahan ini sudah terasa. Masjid-masjid dan mushola-mushola dihiasi dengan kain-kain bernuansa hijau dan putih, menandakan semarak Maulid Nabi. Setiap malam, gema shalawat bergema dari pengeras suara, mengiringi masyarakat yang berbondong-bondong menghadiri acara. Di sela-sela lantunan shalawat, para ulama dan tokoh agama memberikan tausiyah tentang makna kelahiran Rasulullah, ajaran beliau, dan bagaimana umat Islam dapat meneladani sikap serta akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Antusiasme masyarakat begitu luar biasa. Bahkan, dalam banyak kesempatan, peringatan Maulid yang digelar di tingkat dusun bisa dihadiri ratusan hingga ribuan orang. Sementara di tingkat kecamatan, jumlah jamaah yang hadir mencapai ribuan, menjadikan acara Maulid sebagai salah satu momentum kebersamaan terbesar di Talango. Kehadiran masyarakat tidak hanya berasal dari warga setempat, tetapi juga dari kecamatan tetangga yang turut meramaikan suasana.

Yang menarik, perayaan Maulid di Talango bukan sekadar acara seremonial. Di balik setiap kegiatan, terselip nilai-nilai sosial yang sangat kuat. Masyarakat bergotong royong menyiapkan hidangan, mulai dari nasi kebuli, kue tradisional, hingga aneka makanan khas Madura yang dibagikan kepada para tamu. Saling berbagi makanan bukan hanya tradisi turun-temurun, melainkan juga wujud nyata dari semangat kebersamaan dan kepedulian sosial.

Selain itu, bulan Maulid di Talango menjadi ajang silaturahmi yang mempertemukan kembali kerabat jauh maupun perantau yang pulang ke kampung halaman. Tidak sedikit warga yang sengaja menunda urusan lain demi bisa turut serta dalam perayaan. Hal ini menjadikan Maulid bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga momen memperkuat ikatan sosial antarwarga.

Tokoh agama setempat menilai fenomena ini sebagai bukti meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menempatkan Maulid sebagai pusat aktivitas keagamaan. “Kita bersyukur, tahun ini masyarakat Talango begitu kompak dalam merayakan Maulid. Tidak ada acara lain di luar itu. Semua fokus untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ini menandakan bahwa kecintaan masyarakat kepada Rasulullah semakin mendalam,” ujar salah seorang ulama.

Fenomena ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengamat budaya dan keagamaan. Di tengah arus modernisasi, tradisi Maulid di Talango justru semakin kuat, bahkan mampu menyingkirkan aktivitas lain yang biasanya mewarnai kehidupan masyarakat. Artinya, masyarakat berhasil menjaga warisan keagamaan sekaligus memberikan contoh bagaimana kearifan lokal dapat dipertahankan dengan penuh semangat.

Bagi sebagian orang, bulan Maulid identik dengan pesta rakyat. Namun, bagi masyarakat Talango, perayaan tahun ini menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar pesta: sebuah penghayatan mendalam terhadap nilai-nilai Islam dan teladan Rasulullah SAW. Suasana religius, persaudaraan, dan kebersamaan menjadikan Talango pada bulan Maulid seolah-olah hidup dalam satu irama yang sama—irama shalawat dan doa.

Dengan segala fenomena unik ini, bulan Maulid di Kecamatan Talango bukan hanya dirasakan sebagai rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi simbol identitas keagamaan masyarakat. Sebuah identitas yang menjadikan Maulid sebagai titik temu antara iman, budaya, dan kebersamaan sosial yang terus diwariskan lintas generasi.

*****

Tinggalkan Balasan