Opini  

Di Antara Asap dan Doa: Madura, Rokok Ilegal, dan Narkoba

Foto Afandi Ubala S.Sos , MH Ketua Fokal IMM Kabupaten Sumenep ( Doc.Afandi Ubala / Okaranews.id)

Madura, sebuah pulau kecil di timur Jawa, kerap disebut sebagai tanah yang penuh kekerasan sekaligus kesetiaan. Sebuah kontradiksi yang lama-lama menjadi wajah yang sah bagi warganya: keras dalam prinsip, namun lembut dalam pengabdian. Mereka hidup dalam relasi yang akrab dengan agama, dalam bayang-bayang pesantren dan karisma para kiai. Ulama bukan hanya sosok spiritual, tetapi juga poros sosial dan politik. Dalam banyak hal, suara mereka lebih lantang daripada pengeras suara pemerintah.

Namun belakangan, bayang-bayang itu mulai mengabur. Di balik kokohnya menara masjid dan ramainya pengajian, pelan tapi pasti, ada realitas yang merayap: rokok ilegal dan narkoba mulai menjajah. Tak semua terlihat mencolok karena banyak yang masih berselimut rapi dalam jaringan sosial yang samar. Tapi jejaknya mulai terasa. Di desa-desa yang dulu hanya ramai saat hari pasar atau pengajian, kini sesekali terdengar penggerebekan, penangkapan, atau bisik-bisik tetangga tentang “anak muda yang kena sabu.”

Rokok ilegal mungkin bukan cerita baru. Banyak orang Madura melihatnya sebagai bentuk perlawanan diam—sebuah industri alternatif ketika negara seolah abai terhadap kesejahteraan rakyat kecil. Di balik asap rokok itu, ada dapur yang ngebul, ada anak-anak yang bisa tetap sekolah. Tapi kita semua tahu, di balik logika pembenaran itu, ada hukum yang dilanggar, ada hak negara yang dicuri, dan lebih jauh, ada kebiasaan buruk yang diwariskan sebagai sesuatu yang “biasa.”

Lalu narkoba. Ini lebih kelam. Ia masuk tanpa permisi, sering kali melalui jalur laut, memanfaatkan garis pantai Madura yang panjang dan sulit dijangkau. Anak muda yang kehilangan arah, yang kehilangan pekerjaan, atau hanya sekadar mencari pelarian dari tekanan hidup, mereka menjadi sasaran empuk. Dan ironisnya, ini terjadi di tanah yang dikenal sebagai pusat pendidikan Islam, tempat para santri tumbuh dalam pengawasan moral yang ketat.

Ulama-ulama Madura tentu tak tinggal diam. Banyak di antara mereka yang bersuara, berdiri di mimbar, memukul meja, mengutuk keras. Tapi suara itu kini harus bersaing dengan godaan keuntungan cepat dan struktur sosial yang semakin kompleks. Sebagian tokoh masyarakat gamang. Sebagian yang lain, diam karena takut, atau karena sudah terlalu dekat dengan jaring-jaring kepentingan itu sendiri.

Madura kini berada di persimpangan. Antara mempertahankan citra religius dan budayanya yang kokoh, atau perlahan tenggelam dalam arus peredaran gelap yang merusak dari dalam. Tidak mudah memang, sebab masalah ini bukan hanya soal hukum, tapi juga soal struktur ekonomi, pendidikan, dan keteladanan.

Namun harapan itu belum mati. Masih banyak pesantren yang terus menjadi benteng terakhir, masih banyak tokoh yang memilih melawan meski sendirian. Masyarakat Madura memiliki kekuatan kolektif yang luar biasa, gotong royong yang hidup, nilai solidaritas yang tinggi, dan keberanian untuk berubah jika sudah merasa terdesak.

Mungkin yang dibutuhkan hari ini bukan hanya hukum yang keras, tapi juga narasi yang membangkitkan. Bukan hanya operasi penindakan, tapi juga ruang-ruang dialog, pendidikan yang menyentuh akar, dan ekonomi yang lebih manusiawi. Karena jika Madura bisa bertahan dalam sejarah panjang penderitaan dan marjinalisasi, maka ia juga bisa bangkit dari jebakan rokok ilegal dan narkoba.

Pertanyaannya: siapa yang berani memulai? Dan siapa yang cukup sabar untuk menuntaskan?

*****

Penulis: Affandi Ubala Ketua Fokal IMM Kabupaten Sumenep

Tinggalkan Balasan