SUMENEP, OkaraNews.id – Pulau Masalembu, Kabupaten Sumenep, kini bukan lagi dikenal karena keindahan lautnya, tapi karena sabu-sabu yang berseliweran nyaris tanpa hambatan. Mirisnya, transaksi narkoba justru terjadi hanya selemparan batu dari Kantor Polsek Masalembu.
Fakta ini membuat warga geram. Sebagian mulai buka suara, mempertanyakan fungsi dan keberadaan aparat kepolisian yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan barang haram.
“52 kilogram sabu yang diserahkan tempo hari itu bukan hasil tangkapan Polsek, tapi murni kesadaran warga yang muak melihat peredaran narkoba. Ironisnya, sabu malah diserahkan ke Koramil, bukan ke polisi. Ini Polsek jaga apa sebenarnya?” tulis salah satu warga geram di grup WhatsApp lokal, Minggu (6/7/2025).
Salah satu pemuda Masalembu, Suparto, mengaku tak habis pikir dengan bebasnya praktik jual-beli sabu di tengah pemukiman warga. Ia menyebut rumah-rumah transaksi hanya berjarak sekitar 60 meter dari kantor polisi, dan tetap beroperasi terang-terangan siang dan malam.
“Siang hari transaksi jalan terus. Malam apalagi. Sudah bukan rahasia lagi. Kalau begini terus, ya jelas hukum memang sedang dimainkan,” tegasnya.
Warga pun mulai curiga ada yang sengaja “memelihara” jaringan ini. Uang disebut-sebut jadi penentu siapa yang ditangkap dan siapa yang dibiarkan.
“Masalembu sekarang bukan lagi pulau, tapi pasar narkoba bebas. Uang yang berbicara, bukan hukum,” ujar Suparto geram.
Atas kondisi ini, masyarakat meminta Kapolri dan Kapolda Jawa Timur untuk tak tinggal diam. Mereka berharap ada tindakan konkret dari pucuk tertinggi kepolisian untuk mengakhiri mimpi buruk warga Masalembu.
“Kalau memang serius perang terhadap narkoba, maka Masalembu harus jadi prioritas. Jangan tunggu pulau ini jadi sarang mafia,” pungkas Suparto.











