Amnesti, Abolisi, dan Sandiwara Politik: Prabowo dan Paradoks Kekuasaan

Oleh : Affandi Ubala, S. Sos, M. H

Foto hanya ilustrasi

Politik Indonesia, sejak lama, lebih mirip panggung sandiwara besar. Aktor silih berganti, tapi naskahnya nyaris tak berubah: penuh intrik, saling tikung, dan balas dendam yang dibungkus kepentingan. Namun kini, di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, panggung itu mulai terlihat berbeda lebih tenang, lebih berani, dan jauh dari aroma permusuhan.

Saat publik menanti “pembersihan besar-besaran”, Prabowo justru mengulurkan tangan. Amnesti dan abolisi yang ia tempuh bukan sekadar keputusan politik, tetapi langkah simbolik bahwa negara ini tak bisa terus-menerus tumbuh dalam dendam. Ia mengirim pesan jelas ke seluruh penjuru negeri: membangun Indonesia tidak bisa dilakukan dengan saling menjatuhkan, tetapi dengan saling menguatkan.

Dalam atmosfer kekuasaan yang sering beraroma paranoia, langkah ini terasa seperti revolusi diam-diam. Bukan dengan pidato keras atau aksi demonstratif, melainkan dengan keputusan sunyi yang mengguncang: memberi maaf, bukan menghukum. Membuka pintu, bukan menutup celah. Karena ia paham, dalam kepemimpinan, keagungan bukan dilihat dari siapa yang dikalahkan, tapi dari siapa yang dirangkul.

Falsafah Madura menyebutnya begini: “Kennengih kennengannah, lakonih lalakonnah.” Tempatkan pada posisinya, kerjakan yang sesuai keahlian kerjanya. Prabowo seperti sedang menerjemahkan pesan ini ke dalam politik nasional bahwa negeri ini akan stabil jika semua orang bekerja sesuai porsinya, bukan saling rebut peran dalam drama kekuasaan.

Ia tidak sedang menciptakan musuh baru, tapi mencoba menutup luka lama. Ini bukan politik pencitraan, melainkan kenegarawanan yang jarang ditemukan di republik yang terlalu sering kehilangan arah akibat ego elit. Jika ini disebut sandiwara, maka ini sandiwara yang menyelamatkan naskah besar bernama Indonesia.

Prabowo tampaknya tidak ingin tercatat sebagai presiden yang kuat karena membungkam lawan, tapi sebagai pemimpin yang berhasil mengubah arah permainan: dari politik kekuasaan menjadi politik kebangsaan.

Dan di tengah politik yang sering memaksa orang bermain di luar perannya, Prabowo justru menegaskan satu hal: saat semua kembali ke tempatnya, maka negeri ini akan berjalan sebagaimana mestinya.

***

Tinggalkan Balasan