Opini  

Agustus: Nasionalisme dan Hati yang Tergadaikan

Oleh Redaksi OkaraNews.id

Bulan Agustus selalu identik dengan semangat nasionalisme, peringatan kemerdekaan yang dipenuhi semangat juang, cinta tanah air, dan pengorbanan untuk kepentingan bersama. Bendera dikibarkan tinggi, lagu kebangsaan dikumandangkan penuh haru. Semua mengenang jasa para pahlawan yang rela kehilangan segalanya demi bangsa.

Namun di tengah kobaran nasionalisme itu, ada pula fenomena getir yang tak bisa kita tutup mata: mereka yang lantang bicara tentang kepentingan bangsa, tapi diam-diam menggadaikan milik ummat demi kepentingan pribadi. Yang menabuh genderang perjuangan, tetapi menyelipkan catatan transaksi di balik meja.

Inilah wajah lain dari nasionalisme semu, ketika yang diperjuangkan bukan lagi kemaslahatan rakyat, tapi keuntungan kelompok. Ketika simbol-simbol kebangsaan hanya dijadikan panggung untuk menutupi pengkhianatan terhadap kepentingan publik. Ironisnya, ini justru terjadi di bulan yang seharusnya menguatkan solidaritas dan nilai pengorbanan.

Menggadaikan milik ummat, apakah itu aset sosial, bantuan publik, hingga amanah jabatan adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemerdekaan itu sendiri. Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, tapi juga dari kerakusan hati dan nafsu kuasa.

Agustus seharusnya menjadi cermin. Bukan hanya bagi rakyat, tapi terutama bagi mereka yang mengaku pemimpin. Apakah benar kita sedang memperjuangkan rakyat? Atau hanya sedang memperjuangkan posisi, popularitas, dan pundi-pundi?

Terkadang kita hanya bisa menanggapi semua ini dengan tawa getir emoji 😂 yang menyimpan sejuta luka. Karena yang kita tonton hari ini bukan lagi drama perjuangan, tapi sandiwara kepentingan.

Selamat Agustus.

Selamat merdeka, jika benar-benar masih ada yang layak disebut merdeka.

Tinggalkan Balasan